EventsGameKonsolNewsPCReviews

5 Alasan Mengapa The Last of Us Part II Lebih Mantul dari Seri Pertama

Tidak berlebihan jika menyebutkan The Last of Us sebagai salah satu judul game terbaik sepanjang masa. Bahkan, game yang rilis kurang lebih tuju tahun ini disebut sebagai salah satu perjalanan ‘spiritual’ yang wajib dilakukan gamer.

Perjalanan spiritual di sini dimasudkan dengan pengalaman bermain yang sempurnah: menyentuh perasaan, merengkuh memori, dan memercikkan kekaguman dengan perkembangan teknologi grafis di penghujung era konsol PS3 kala itu. Semua kesan-kesan tersebut, tak akan pernah sirna oleh waktu.

The Last of Us mengambil formula yang pas dalam menghadirkan perjalanan spiritual tersebut. bagaimana tidak, kita disuguhkan dengan permainan berdurasi hampir 15 jam dengan kemasan cerita post-apokaliptik layaknya film Hollywood.

Tak sampai di situ, ikatan hubungan antar dua karakter utama, Ellie dan Joel, juga menjadi asalan telak game ini begitu dicintai banyak orang.

Akhir dari game ini juga bisa dikatan sebagai salah satu ending terbaik di sejarah industri game. Banyak yang mengupas diskusi terkait apakah ending tersebut bermakna ganda, membuka peluang kedua tokoh utama menyambuh cerita pertama.

Nyatanya, Naughty Dog, sang developer tak sekedar menghisap jembol belaka. Tepat pada 19 Juni 2020, The Last of Us Part II resmi melenggang.

Part II ini diluncurkan di tengah ricuhnya persepsi pemain yang terbagi dalam dua kubu: pecinta franchise The Last of Us Series garis keras, dan pembenci yang kadung melihat banyaknya bocoran berkeliaran di media sosial.

Meski demikian, nyatanya game ini tetap mencetak performa apik yang gemilang. Tercatat, dua minggu setelah rilis, game ini langsung laris manis dari 4 juta kopi.

Terlepas dari banyaknya ujuran benci yang diumpatkan ke Part II ini, setidaknya ada beberapa hal menarik secara sisi gameplay yang menjadikannya lebih mantul dari seri pertamanya.

Bagi kalian yang sudah bermain, pasti paham betul apa saja yang akan dijabarkan. Berikut kami sudah merangkum 5 alasan mengapa The Last of Us Part II lebih mantul daripada seri pertamanya.

5 Alasan The Last of Us Part II lebih Mantul dari Seri Pertama

Warning: artikel ini mengandung spoiler halus, sehingga sangat dianjurkan bagi kalian yang belum atau tengah memainkan game ini untuk mempertimbangkan lanjut membaca bagian berikut.

1. Skill Tree Bervariasi

Skill menjadi salah satu instrument penting bagi pemain untuk mengasah kemampuan karakter di dalam game. Pada seri kedua ini, baik Ellie maupun Abby, keduanya memiliki skill tree masing-masing dengan kemampuan khusus.

Ada beberapa hal yang membedakan upgrade skill karakter pada seri pertama dan seri kedua.

Seri pertama hanya memiliki enam skill upgrade: Maximum Health, Listen Mode Distance, Crafting Speed, Healing Speed, dan Weapon Sway, dengan beberapa upgrade bar untuk masing-masing skill.

Adapun seri kedua, upgrade skill dikemas lebih menarik, dan terbagi dalam beberapa bagian lewat konsep “skill tree”. Ellie akan mendapatkan skill branch, Crafting, Stealht, Precision, Explosive, sedangkan Abby mendapatkan skill branch Covert Ops, Close Quarters, Firearm, dan Ordinance.

Untuk membuka skill tree baru, pemain harus mendapatkan training manual yang tersebar di berbagai tempat di sepanjang permainan.

2. Lokasi Lebih Masif

Seri kedua ini memiliki durasi permainan hingga 25 jam. Sudah jelas dengan panjangnya durasi permainan tersebut, lokasi yang ada di game ini akan lebih masif ketimbang seri pertama.

Ya, game akan mengambil lokasi yang kebanyakan bertempat di Seattle, Amerika Serikat, Washington, dan timeline permainan akan terbagi dalam tiga hari serta dua babak dari perspektif Ellie dan Abby.

Seattle Day 1 menjadi salah satu lokasi yang terbilang memakan porsi sangat besar. Meski bukan mengambil konsep open world, bisa dirasa game ini memiliki nuansa semi open-world.

Saat Elli dan Dina pertama kali berkuda memasuki downton Seattle, pemain bisa dengan leluasa mengontrol mereka untuk berkeliling kompleks gedung-gedung pencakar langit, memasuki satu demi satu lokasi sekedar untuk menyeser supplies dan key item agar dapat lanjut ke lokasi berikutnya.

Konsep ini sebetulnya sudah pernah diimplementasikan di Uncharted Lost Legacy, di mana Chole dan Nadine berpetualang di daratan India menyambangi satu reruntuhan ke reruntuhan lain.

3. Mekanisme Puzzle Lebih Tricky

Kangen dengan bagaimana Joel mengangkut Ellie di atas papan dan membawanya dari satu sisi seberang, atau bagaimana kalian bisa menghabiskan waktu setengah jam membawa sebuah tangga untuk mencari jalan keluar? Jika iya, seri kedua ini menawarkan mekanisme puzzle yang sangat tricky ketimbang seri pertamanya.

Kebanyakan, puzzle di seri kedua ini akan berfokus pada mekanisme membawa tangga/plang, serta mendorong troli. Namun, ada beberapa jenis puzzle baru yang cukup membingungkan pemain, seperti mekanisme lempar tali dan locked doors. Untuk melakukan ini, pemain harus cukup jeli melihat lokasi dari perspektif yang lebih jauh.

Pastikan tempat yang tepat untuk melempar tali sehingga bisa dinaiki dengan aman, dan carilah celah jendelah yang bisa dipecah sebagai akses masuk ke ruangan tempat pintu tersebut dikunci. Hal ini menjadi elemen yang cukup mewarnai mekanisme puzzle di seri kedua ini menjadi lebih menarik.

4. Gerakan Karakter Lebih Lincah dari Sebelumnya

Seri kedua ini menawarkan kontrol baru yang membuat pergerakan karakter menjadi lebih agresif. Jika di seri pertama pemain hanya bisa melakukan crouch (menunduk), di seri kedua, pemain bisa melakukan prone (tiarap) untuk menghindari musuh. Kehadiran elemen seperti rerumputan dan ilalang di sini juga mendukung pergerakan prone karakter agar semakin garang.

Karakter juga bisa melakukan loncat dengan menekan tombol ‘X’. namun, loncatan di sini tidak berfungsi sebagai loncat pada komsep platformer yang diusung franchise Uncharted. Pemain bisa membuat karakter meloncat hanya jika karakter menemukan gap yang tidak terlalu jauh.

5. Fitur Aksesibilitas

Salah satu peningkatan yang hadir di seri kedua ini dibanding seri pertamanya adalah adanya fitur aksesibilitasi. Dengan kehadiran lebih dari 60 fitur aksesibilitasi, game ini mampu menghadirkan pengalaman bermain yang bisa diperluas ke cakupan pemain dengan disabilitas.

Dengan demikian, pengalaman bermain game bisa dikatakan lebih inklusif dan dapat dirasakan oleh seluruh kalangan pemain.

Adapun beberapa fitur yang hadir di aksesibilitas seperti kehadiran fitur narasi ketika gamer akan melakukan aksi, sistem save/load, isyarat audio saat bermain, serta sistem auto-aim di dalam game yang memudahkan pemain tunaetra.

Nah, itulah beberapa alasan kenapa The Las of Us Part II lebih mantul, daripada seri pertamanya. Menurutmu sobat Gamerz, apakah kalian suka dengan seri kedua ini? Jika suka, jangan lupa kunjungi terus GameZero.id agar tidak ketinggalan berita menarik lainnya seputar dunia games, gadget, anime, manga, teknologi, movies, eSports, dan lain-lain.

Denny Darmawan

Tertarik dengan Dunia Gaming & Esport. Idealisme untuk menjadikan industri gaming devisa utama.